PANGKALPINANG — Pergantian pimpinan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pangkalpinang, Rabu (26/8/2026), bukan sekadar seremoni pergantian jabatan. Ada cerita tentang estafet pengabdian, inovasi dan sebuah perjalanan dari Pulau Timah menuju Pulau Kemandirian.
Setelah 541 hari memimpin Lapas Kelas IIA Pangkalpinang, Sugeng Indrawan resmi menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada Febie Dwi Hartanto. Sugeng selanjutnya dipercaya mengemban amanah sebagai Kepala Lapas Kelas IIA Kembang Kuning, Nusakambangan.
Momen lepas sambut dan serah terima jabatan tersebut berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh kekeluargaan. Sejumlah unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan, mitra kerja Lapas Pangkalpinang, jajaran Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kepulauan Bangka Belitung, Dharma Wanita Persatuan, Persatuan Ibu-Ibu Pemasyarakatan, petugas Lapas hingga para pensiunan turut hadir.
Ada sisi unik dari perpindahan tugas Sugeng. Ia meninggalkan Bangka yang selama puluhan tahun dikenal sebagai Pulau Timah untuk menuju Nusakambangan yang kini sedang dibangun dengan wajah baru sebagai pulau kemandirian dan lumbung pangan Pemasyarakatan.
Transformasi Nusakambangan tersebut digagas Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan sejak September 2025. Fokusnya adalah memperkuat ketahanan pangan sekaligus membangun kemandirian warga binaan melalui berbagai program produktif.
Semangat itu ternyata bukan sesuatu yang asing bagi Sugeng. Selama memimpin Lapas Pangkalpinang, ia telah mendorong berbagai inovasi yang tidak hanya berorientasi pada warga binaan, tetapi juga menyentuh kehidupan masyarakat sekitar.
Salah satu yang menonjol adalah pemanfaatan Fly Ash Bottom Ash (FABA) sebagai bahan pembenah tanah dan kompos. Limbah tersebut diolah menjadi produk yang lebih ramah lingkungan dan ekonomis untuk mendukung sektor pertanian.
Inovasi tersebut kemudian dikembangkan melalui Program Kelurahan Binaan di Kelurahan Tuatunu Indah. Pemanfaatan kompos dilakukan untuk kebun sawit dan nanas masyarakat adat Melayu Tuatunu.
Program itu juga melahirkan pengembangan dodol nanas bersama UMKM dan santri Pondok Pesantren Manbaul Ulum. Produk tersebut bahkan telah dipasarkan hingga Jawa Barat.
Tidak hanya soal pangan, Lapas Pangkalpinang juga terlibat dalam penyerahan rumah panggung layak huni serta penanaman hortikultura di lahan tidak produktif milik pesantren.







