Hal ini tentunya akan membuat anak merasa seperti orang asing ketika berada di dalam rumah sehingga anak akan mencari kenyamanan diluar yang tentunya dari hal tersebut anak sulit membedakan baik atau buruknya pergaulan yang dia jalani karena dari hal ini anak hanya akan mencari rasa nyaman untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan apakah hal tersebut berbahaya ataupun tidak untuk dirinya.
Tak hanya itu pola asuh yang toxic misalnya terlalu posesif dengan anak tanpa adanya alasan dan memberi pengertian terhadap anak mengapa ia tidak boleh keluar diatas jam 10 malam, larangan yang tidak disertai alasan tentunya akan dianggap anak sebagai bentuk hukuman untuk dia sehingga ketika ada kesempatan untuk keluar anak akan melanggar larangan tersebut karena anak berpikiran dia hanya ingin bebas.
Seringkali hal kecil seperti itu tidak akan terlihat dimata masyarakat, yang mereka tau hanya kejahatan remaja sekarang semakin bertambah karena pergaulan yang tidak sehat tapi lupa menyoroti bagaimana bisa anak terjerumus kedalam pergaulan tidak sehat.
Parenting Pra-Nikah ini sendiri akan memiliki investasi pada jangka yang panjang bagi anak maupun keluarga. Dengan melakukan kesiapan sejak dini, calon orang tua bisa mempelajari kesalahan-kesalahan yang selama ini diwajarkan dalam mengasuh anak. Menjadi orang tua tentunya bukan hal yang mudah, akan tetapi anak juga tidak pernah minta untuk dilahirkan.
Oleh karena itu kita sebagai calon orang tua hendaknya mempersiapkan diri bagaimana caranya untuk menghindari pola asuh yang toxic, menciptakan suasana rumah yang nyaman, serta menjadi tempat pulang terbaik bagi anak.
Toxic parenting tentunya dapat menimbulkan masalah serius yang dapat memengaruhi kesejahteraan anak secara jangka panjang. Namun, dengan kesadaran, edukasi, dan dukungan yang tepat, siklus ini dapat dihentikan. Orang tua perlu memahami bahwa pengasuhan yang sehat bukan hanya tentang memberikan kebutuhan fisik, tetapi juga memastikan keseimbangan emosional dan psikologis anak. Dengan demikian, anak dapat tumbuh menjadi individu yang percaya diri, bahagia, dan mampu membangun hubungan yang sehat di masa depan. (*)
Penulis adalah:
Mahasiswa Prodi Sosiologi Angkatan 2022
Universitas Bangka Belitung







