“Kalau kita bisa urus SNI-nya, sehingga menjadi terstandarisasi, kemudian bisa dikembangkan di tempat-tempat lain di Indonesia,” ujarnya.
Bambang menjelaskan penggunaan pupuk berbahan FABA juga telah mendapat sejumlah testimoni positif dari masyarakat. Salah satunya dari petani sawit yang mengaku produksinya meningkat dari sekitar 14 ton menjadi lebih dari 30 ton setelah menggunakan pupuk tersebut.
Selain itu, penggunaan pupuk berbahan FABA untuk tanaman cabai juga dilaporkan mampu membantu tanaman yang sebelumnya mengalami kondisi daun keriting untuk kembali menumbuhkan tunas dan akar baru.
Bambang menyebut pupuk berbahan FABA juga memiliki harga relatif murah. Saat ini, satu karung pupuk tersebut dijual sekitar Rp35 ribu, sedangkan pupuk urea disebut memiliki harga jauh lebih tinggi.
“Ini sangat bagus dengan judul pemberdayaan dan ketahanan pangan. Kami berharap kerja sama ini dapat menjadi satu program nasional, PLN dapat melakukan optimalisasi hilirisasi FABA untuk mendukung pangan,” katanya.
Ia juga mendorong agar pemanfaatan FABA tidak hanya dilakukan di Bangka Belitung, tetapi dapat diterapkan pada PLTU di Sumatera, Jawa, maupun Kalimantan. (**)







