Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Babel Heryawandi mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren kasus kekerasan dan eksploitasi seksual anak di bawah umur yang terus mencuat. Berdasarkan data yang dihimpun, angka kasus ini terus merangkak naik secara signifikan setiap tahunnya.
”Pada tahun 2024 angka kasus masih di bawah 300. Namun, di tahun 2025 meningkat menjadi lebih dari 300 kasus. Bahkan pada triwulan pertama tahun 2026 ini, peningkatannya sudah mencapai 30 persen dibanding tahun sebelumnya,” ujar Heryawandi kepada wartawan.
Ia menegaskan bahwa peningkatan baik secara kualitas maupun kuantitas ini menuntut penguatan peran dari setiap instansi terkait. Menurutnya, rapat ini bukanlah agenda formalitas belaka, melainkan awal dari rangkaian koordinasi maraton untuk melahirkan kebijakan yang konkret dari pemerintah daerah.
“Kita akan terus lakukan koordinasi secara maraton mengenai bagaimana mestinya penanganan dilakukan, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan proses belajar mengajar yang akan kita kaitkan dengan nilai kehidupan lokal,” lanjutnya.
Terkait dukungan operasional, Heryawandi memastikan bahwa DPRD tetap mengalokasikan anggaran pada tahun 2025 dan 2026 untuk mendukung program perlindungan anak. Meski diakui fasilitas pendukung saat ini belum ideal, pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan perbaikan.
Ke depan, DPRD berencana memperluas jangkauan koordinasi dengan melibatkan aparat penegak hukum lainnya agar terjadi kesamaan persepsi dalam penanganan perkara.
”Kami ingin menyamakan persepsi, termasuk nanti mengundang teman-teman dari kejaksaan dan pengadilan yang terkait dengan penanganan kasus-kasus selama ini,” tambah politisi tersebut.
Selain itu Heryawandi juga menyoroti pentingnya peran lembaga teknis dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dalam melakukan pengawasan di lapangan. Ia berharap keterbatasan anggaran tidak menjadi penghalang untuk bekerja maksimal dalam menekan angka kekerasan.
”Persoalan anggaran memang klasik, tapi dengan keterbatasan ini kita tetap berharap kualitas dan kuantitas kasus tidak terus meningkat. Ini adalah tanggung jawab kita bersama karena menyangkut masa depan anak-anak kita,” pungkasnya. (***)







