Sementara untuk HIV/AIDS, diperkirakan terdapat sekitar 28 ribu infeksi baru setiap tahun dengan jumlah orang yang hidup dengan HIV mencapai sekitar 570 ribu orang.
Agustu menilai fenomena gunung es masih menjadi tantangan dalam penanganan HIV/AIDS, terutama akibat stigma dan rasa malu yang membuat sebagian masyarakat enggan melakukan pemeriksaan maupun melaporkan kondisinya.
“HIV ini seperti fenomena gunung es. Yang terlihat di permukaan sedikit, tetapi di bawahnya sangat banyak karena masih ada stigma dan rasa malu dari penderita untuk melapor. Ini yang perlu kita antisipasi,” tegasnya.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong penguatan peran kecamatan dan kelurahan sebagai garda terdepan dalam pelayanan dan pemberdayaan masyarakat.
Sinergi juga perlu dibangun bersama organisasi kemasyarakatan dan kelembagaan lainnya, termasuk PKK Pokja IV serta Komisi Penanggulangan AIDS.
Pemerintah Indonesia menargetkan eliminasi AIDS, TBC, dan Malaria pada 2030. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari komitmen nasional dalam memperkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit menular.
Agustu berharap pertemuan tersebut tidak berhenti pada forum koordinasi, tetapi mampu menghasilkan komitmen dan langkah nyata yang dapat diterapkan di tingkat kelurahan dan kecamatan.
Ia meminta hasil pembahasan forum dirumuskan menjadi komitmen bersama untuk selanjutnya disampaikan kepada Tim Anggaran Pemerintah Daerah dan Wali Kota Pangkalpinang.
Hal itu dinilai penting untuk memastikan dukungan penganggaran terhadap program pencegahan dan pengendalian AIDS, TBC, dan Malaria dapat diperkuat di tingkat kelurahan maupun kecamatan.
“Marilah kita bekerja sama, saling bergandengan tangan untuk mengoptimalkan peran dan kontribusi dalam menuntaskan kasus AIDS, TBC, dan Malaria menuju eliminasi tahun 2030,” tutupnya. (*)







