Sedemikian lama hingga subuh datang. Ketika itulah tampak di lokasi bencana, Pincuran Tujuah, Supayang, semua rumah sudah tak berbekas, kecuali rumah gadang suku kakek saya. Suraunya sudah tak berbekas lagi. Selain 7 rumah di sana habis tak bersisa, juga jembatan hilang semua bekasnya. Di sini dunsanak saya 21 orang tewas, termasuk keluarga Syekh Jamil Jaho.
Di Pasir Lawas, tempat saya belajar di SMP jantung nagari hancur oleh galodo. Pasar dan rumah penduduk tak berbekas. Bau lumpur dari gunung tercium aneh dan ganjil. Sekolah saya selamat, tapi sejumlah teman sekolah tewas dalam musibah itu.
Ribuan atau mungkin sejuta orang, datang memadati Pasir Lawas, nagari paling parah diterjang galodo, setelah Lasi. Berketiding- ketiding uang logam sumbangan terkumpul. Dan, pelaku wisata bencana itu, takjub, sebab masjid Pasir Lawas yang ada di lembah, justru tak disentuh Galodo. Masjid itu, kemudian kian rancak saja.
Setelah musibah adalah duka yang panjang, terutama saat mengubur jenazah. Tak lama benar kemudian sebagian warga di Supayang dan Pasir Lawas, ikut transmirasi lokal ke Sitiung.
Penulis Khairul Jasmi
Sumber hariansinggalang







