SEORANG murid SD di Kabupaten Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya dengan meninggalkan sepucuk surat untuk ibundanya, inisial MGT (usia 47 tahun). Dalam surat itu, sebagaimana telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia, korban menuliskan,
“Surat buat Mama
Mama saya pergi dulu
Mama relakan saya pergi
Jangan menangis ya Mama
Tidak perlu Mama menangis dan mencari, atau mencari saya
Selamat tinggal Mama”.
Korban tersebut diketahui tinggal bersama neneknya, karena ibundanya, yang merupakan orangtua tunggal, bekerja sebagai petani dan kerja serabutan. Ibunda korban mengurusi lima orang anak, termasuk korban yang telah meninggal dunia.
Menteri Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Abdul Mu’ti saat ditanya wartawan di di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, mengaku belum mengetahui informasi tersebut. Namun berjanji akan menyelidiki insiden tragis yang dialami murid SD berusia 10 tahun di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang mengakhiri hidupnya karena tak mampu membeli buku dan pena seharga Rp10.000.
Mu’ti mengaku belum mendapat informasi mengenai peristiwa tersebut. “Saya belum tahu, nanti kita selidiki lagi ya penyebabnya apa dan sebagainya,” kata Mendikdasmen Abdul Mu’ti.
Sementara itu, Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menyatakan rasa keprihatinannya terhadap insiden memilukan itu. Gus Ipul menegaskan insiden yang dialami anak tersebut menjadi perhatian pemerintah, khususnya Kemensos.
“Kami prihatin, turut berduka. Tentu, ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama, tentu bersama pemerintah daerah. Kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita. Ya kita harapkan tidak ada keluarga miskin dan miskin ekstrem yang tidak terdata,” kata Gus Ipul.







