Oleh Retno Wulan, M.Pd.
PENGAJARAN Bahasa terutama Bahasa Inggris untuk anak-anak tidak terlepas dari berbagai teori bahasa dan pengajaran. Pengajaran bahasa memiliki dua komponen penting yaitu pengetahuan mengenai bahasa dan penggunaan atau implementasi mengenai Bahasa itu sendiri. Ketika para siswa mampu menyampaikan pesan dalam bahasa yang sederhana, mereka akan mempelajari bahasa tersebut dan secara alami menikmati proses penguasaan bahasa.
Cameron (2001) berpendapat bahwa anak-anak memproses bahasa melalui hubungan kongnitif antara konsep realita dan abstrak. Anak – anak sangat tertarik dalam kegiatan yang mengajak mereka untuk ikut andil didalamnya, sehingga pengajaran harus bersifat kontekstual, interaktif, dan menggunakan alat-alat sederhana yang sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif mereka (Pinter, 2017; Slattery & Willis, 2001).
Selain itu, para guru harus memberikan ruang bagi anak – anak untuk mengembangkan kompetensi Bahasa mereka secara bertahap karena bahasa merupakan suatu hal yang dinamis. Alih-alih menyuguhkan banyak hafalan (misalnya, kosakata) dan permainan yang tidak mampu mengukur kemampuan anak – anak, para guru harus memastikan bahwa anak–anak tersebut mampu mengintegrasikan pengalaman dan konteks sehari – hari (Cameron, 2001). Cameron juga memperkenalkan konsep scaffolding dimana para guru mengajarkan Bahasa melalui alat–alat peraga.
Jika ditelaah dan diterapkan dalam pengajaran bahasa untuk pendidikan di Indonesia, terutama pengajaran Bahasa Inggris kepada anak – anak, ada beberapa komponen yang bisa dilakukan para guru yaitu (1) menggunakan story telling. Guru mengajarkan bahasa melalui cerita sederhana yang mengandung banyak elemen metafora. Misalnya, melalui cerita fabel mengenai kancil, para guru mampu memperkenalkan beberapa kata sifat seperti clever, brave, loyal dan lain – lain.







