SUNGAILIAT (realita.news) – Jika ingin buah tanaman perkebunan kembali meningkat seperti awal periode tanam pertama maka meningkatkan ketersediaan unsur hara dalam tanah adalah hal yang paling penting dilakukan.
Hasil panen seperti buah adalah bagian yang paling banyak menyedot unsur hara dalam tanah sehingga untuk periode produksi selanjutnya, hara atau nutrisi tumbuhan yang ada dalam tanah perlu ditingkatkan. “Berkurangnya unsur hara dalam tanah termasuk salah satu keadaan yang bisa disebut terganggunya kesehatan tanah,” ujar Dr. Nurul Hijri Darlan di Gedung Graha Maras Sungailiat, Rabu (11/6/2025).
Peneliti dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan ini mengatakan hal tersebut dalam closing statementnya pada acara pertemuan teknis ‘Peningkatan Produktivitas Tanaman Pangan dan Perkebunan dengan Mengunakan Pupuk Hayati yang Ramah Lingkungan’. Kegiatan ini diikuti seluruh Penyuluh Pertanian baik ASN, PPPK ataupun Tenaga Kontrak Balai Penyuluh Pertanian Dinas Pangan dan Pertanian Kabupaten Bangka.
Pertemuan teknis ini juga dihadiri pimpinan dan karyawan perusahaan sawit PT Mitra Agro Sembada Desa Labu, PT Sinar Agro Makmur Lestari serta perwakilan petani kelapa sawit dari masing masing Kecamatan di Kabupaten Bangka. Acara ini dibuka oleh Kepala Dias Pangan dan Pertanian Bangka Syarli Nopriansyah, SSTP.
Menurut Doktor Nurul, selain tanah yang tidak sehat, banyak faktor yang menyebabkan produksi berkurang yang disebabkan kesalahan dalam pemupukan. Hal itu meliputi tanah terdegradasi, tanah yang padat, agregasi jelek, rendagnya retensi air serta tanaman yang mudah terserang penyakit. “Faktor utamanya adalah pemipikan dan pemberian pestisida yang kurang terkontrol,” katanya.
Karena itu, Wanita Berjilbab ini menyarankan agar petani kelapa sawit ataupun perusahan sawit untuk beralih mengunakan pupuk hayati. Alasannya pupuk hayati berperan meningkatkan kesuburan tanah, meningkatkan ketersediaan unsur hara, meningkatkan ketahanan tanaman, produktivitas tanaman, ramah lingkugan dan menjamin terjadinya pertanian berkelanjutan.

“Secara umum, pupuk ada tiga jenis yaitu pupuk an organik, pupuk organik dan pupuk hayati. Masing masing jenis memiliki peran tersendiri yaitu ada yang fokus pertumbuhan tanaman sehingga berproduksi tinggi dan ada yang untuk struktur tanah serta pupuk yang memproduksi mikroba untuk meningkatkan efesiensi pemupukan serta kesuburan dan kesehatan tanah,” jelasnya.
Sementara itu, Mashuri selaku Konsultan Pupuk Hayati yang juga menjadi nara sumber dalam kegiatan ini menjelaskan tentang pupuk hayati yang bagus itu adalah yang mengandung empat mikroba yang diperlukan oleh tanah dan tanaman. “Keempat mikroba penting itu adalah azotobacter sp, azospirilium sp, bacillus sp dan pseudominas sp. Nah semua mikroba berguna itu ada dalam Pupuk Hayati merek HR,” katanya.

Mashuri juga menyebutkan saat ini terdapat sebanyak 279 mereka terdaftar pupuk hayati. “Tidak semua merek terdaftar itu yang komposisi zat atau mikrobanya lengkap. Tetap terdapat kekurangan dari zat atau bahan yang dibutuhkan oleh tanah dan tanaman,” katanya.
Pada kesempatan terakhir, Rudy Septadi, Direktur PT Mitra Agro Sembada dalam testimoninya menyebutkan bahwa pihkanya telah sejak awal berhubungan dengan Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan baik untuk hal yang berkaitan dengan bibit, perawatan tananam sampai kepada pengunaan pupuk.
Sedangkan mengenai Pupuk Hayati HR, Rudi Septadi mengaku bahwa beberapa lahan perkebunan milik perusahaannya mengunakan pupuk tersebut.
Kegiatan ini mendapat sambutan yang antusias dari Penyuluh Pertanian dan petani kelapa sawit yang hadir. Hal itu terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan kepada nara sumber tentang keungkulan pupuk hayati.
Menurut Rudi Septiadi, kegiatan yang sama dengan menghadirkan nara sumber yang sama juga akan diadakan di Kabupaten Bangka Barat. “Peserta juga sama yaitu para Penyuluh Pertanian Lapangan, petani kelapa sawit serta koperasi koperasi sawit. Untuk Bangka barat akan diadakan Kamis tanggal 12 Juni 2025, besok” katanya. (repli)








