Roberth menjelaskan, ribuan liter minyak jelantah itu dikumpulkan dari lebih 1.000 warga yang ada di Kelurahan Kutawaru, Kelurahan Tegalrera, Kelurahan Tegalkamulyan dan warga Komperta Lomanis, Gunung Simping, Katilayu.
Tak hanya memiliki wawasan lingkungan, pengumpulan minyak jelantah ini juga memberikan dampak ekonomi. Menurut Roberth, minyak jelantah yang didapat dari warga dihargai rata-rata Rp5 ribu per liter sehingga menghasilkan omzet sekitar Rp20 juta per tahun.
“Pengumpulan minyak jelantah ini tak hanya mencegah pencemaran lingkungan, tapi juga menanamkan kebiasaan baru pada masyarakat, yakni memilah sampah sejak dari rumah. Gerakan ini juga mewujudkan kemandirian masyarakat, yang merupakan salah satu tujuan digelarnya program TJSL,” tandas Roberth.
Kilang Cilacap adalah pelopor produsen energi hijau di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara. Puncaknya, pada Agustus 2025, PertaminaSAF pertama kali digunakan dalam penerbangan komersial maskapai Pelita Air rute Jakarta-Denpasar.
“Kami bangga bisa menjadi yang terdepan dalam inovasi SAF, dan kami berkomitmen untuk terus mendukung produksinya. Upaya ini juga merupakan komitmen kami untuk mendukung Net Zero Emission (NZE) 2060 yang telah ditetapkan pemerintah. Kami optimis Pertamina SAF dapat segera digunakan secara luas dan menjadi standar baru dalam industri aviasi global,” tutup Roberth.
(Sumber pertaminapatraniaga.com)






