“Kekuatan suatu negara didasari pada ketahanan pangannya. Kita tahu pertambangan dan perkebunan masih menjadi sumber utama, padahal hortikultura juga punya potensi besar seperti bawang merah. Ini menunjukkan bahwa sebagian stigma yang menyebutkan di Babel tidak bisa tumbuh tanaman hortikultura, ini membuktikan ini bisa,” katanya.
Hanya saja, tantangan yang dihadapi ialah meyakinkan para petani untuk tetap eksis pada tanaman bawang, serta pihak-pihak terkait yang dapat mendukung keberlanjutan para petani, hingga dapat memenuhi ketahanan pangan di ‘negeri’ sendiri, baik dari pemerintah di tiap tingkatan, ataupun mitra.
“Kita harus terus mengeksplorasi diri, melihat potensi yang ada. Memang tidak mudah merubah mindset petani. Ini adalah tantangan, karena kehadiran petani harus dibina, di-upgrade pengetahuannya, kesadaran, dan daya juangnya. Kenapa daya juang? Tidak semua (Hasil) bisa instan. Dia harus butuh waktu, sehingga memang perlu keuletan, dan kita harus bangkit bersama,” pungkasnya. (*)
(Sumber Diskominfo)







