Bank Sumsel Babel pun terus mendorong pelaku UMKM agar tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berkembang dan naik kelas. Pendampingan dilakukan melalui berbagai dukungan yang dapat membantu pelaku usaha memperkuat kapasitas bisnis sekaligus beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Pempek Ikan Giling A3 menjadi salah satu contoh bagaimana warisan kuliner lokal dapat berjalan beriringan dengan digitalisasi.
Resep keluarga tetap dipertahankan, cita rasa dijaga, sementara sistem pembayaran mulai menyesuaikan dengan kebiasaan masyarakat yang semakin terbiasa menggunakan transaksi digital.
Perpaduan antara kualitas produk, konsistensi rasa, pelayanan, dan pemanfaatan teknologi menjadi modal penting bagi UMKM kuliner untuk menghadapi persaingan.
Dengan dukungan dan pembinaan Bank Sumsel Babel, Pempek A3 diharapkan dapat memperluas pasar sekaligus meningkatkan kapasitas usahanya.
Lebih jauh, perkembangan UMKM juga memiliki dampak terhadap perekonomian daerah. Ketika semakin banyak usaha lokal tumbuh, aktivitas ekonomi di tengah masyarakat turut bergerak dan membuka peluang yang lebih luas.
Bank Sumsel Babel terus mendorong UMKM agar mampu berkembang dari usaha yang sekadar bertahan menjadi usaha yang lebih kuat dan kompetitif.
Pempek A3 menunjukkan bahwa melestarikan kuliner tradisional bukan berarti harus tertinggal oleh zaman. Resep warisan tetap bisa menjadi kekuatan bisnis ketika dipadukan dengan inovasi dan teknologi.
Dari sepiring pempek, warisan rasa tetap terjaga. Dari QRIS, cara bertransaksi berubah. Keduanya menjadi gambaran bahwa kuliner khas daerah dapat terus hidup, berkembang, dan semakin dekat dengan generasi baru. (*)







