Ini bagian dari residu busuk yang dilakukan Belanda. Dalam menjajah, selain menguras hasil bumi, mempekerjakan pribumi di luar batas nalar, juga sering merampas tanah rakyat, terutama untuk perkantoran, rel kereta api dan perkebunan, maka dikenallah ungkapan. “Seperti belanda minta tanah.” Kemudian untuk memperlemah pribumi, banyak sekali akal penjajah ini.
Hampir sepanjang karir kepenjajahannya, Belanda menerapkan politik devide et impera, pecah belah. Maka, tak heran sejak lama kerajaan-kerajaan besar saling tak percaya. “perang antar kampung,” sudah jadi tradisi di Minangkabau. Ada saja masalah yang menjadi pemicunya. Selain antar kampung, juga di dalam kampung sendiri, muncul saja hal yang jadi permusuhan, sedemikian masifnya. Ini terjadi di semua suku. Maka, perselisihan itu telah menahun, baru terurai ketika Syam belum lahir, sekitar 1970-an. Ini melalaikan anak muda untuk saling mengenal potensi kampungnya.
Apapun itu, kopi tetap tumbuh di hutan. Yang bisa diolah, maka dikerjakan, yang tidak terlantar. Laporan-laporan kolonial pada 1910 dan seterusnya memperlihatkan, Belanda tetap mengimpor kopi dari sini. Sesungguhnya, kopi terbaik itu bukan dari Sumatera Barat tapi dari Aceh, Sumatera Utara, Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung. Walau begitu, Sumatera Barat tetap memainkan perannya.
Demikianlah Kapal China telah berlayar menuju Singapura, tempat urang awak banyak merantau demi penghidupan dan lari dari urusan Belanda. Warung-warung kopi terlihat bermunculan, dengan preman bersileweran dan juga ada wanita penghibur. Kopi yang berlayar dari Sumatera dan Vietnam telah diolah dan diseduh dan kemudian menjadi gaya hidup di sana.
Iklan trip ke Singapura melalui Teluk Kuantan di atas, memperlihatkan, lalulintas yang ramai di jalur perdagangan itu, kemudian jadi warisan pada tahun-tahun mendatang.
Sekelompok urang awak telah berdiam di sana, kemudian menjadi bagian penting ketika pulau kecil itu tatkala menjadi negara, maka Josuf Iskah, presiden pertama Singapura adalah urang awak. wartawan Eunos Abdullah, anggota Dewan Legislatif Melayu pertama di Singapura di zaman kolonial juga urang awak. Komposer lagu kebangsaan Singapura, Zubir Said berasal Minangkabau.
Perantau Minang telah datang ke Tanah Semanjung sejak lama melalui jalur sungai kemudian masuk ke Selat Melaka. Bahkan di Malaysia, akhirnya mereka berhimpun menjadi satu negara bagian, Negeri Sembilan. Syekh Tahir Jalaluddin, ulama besar Minangkabau, malah menjadi bagian dari sejarah Singapura dan Malaysia.
Maka tak heran kalau sekadar membawa kopi ke Singapura, hal ringan saja bagi perantau. Mereka adalah bagian dari penduduk sebuah pulau yang merana akibat penjajah. Mereka adalah sekelompok orang satu-satunya di dunia yang mengolah daun kopi menjadi teh, sebagai sebuah kebodohan atau sebuah penemuan yang ternyata bertahan sampi berabad kemudian. Mereka adalah penduduk matriakat satu-satunya di dunia dalam kelompok besar yang tak diusik Belanda. Merekalah suku yang berperang antara Kaum Agama dan Adat dan Belanda menghabisi keduanya, kemudian.
Dan, teh dari daun kopi itu, tak pernah dicoba orang, sampai zaman terakhir sekalipun. Namun, mereka sangat suka Kopi “O” ala Singapura. Jangan-jangan bangsa-bangsa di dunia yang bukan penghasil kopi hanyalah sok tahu belaka. Mereka menikmati biji kopi yang tumbuh di tanah tropis, yang siang malam daun-daunnya mandi angin. Karena mereka tak punya ladang kopi, lalu bermain-main dengan kopi lantas lahirlah berbagai jenis minuman, yang semuanya berasal dari kopi dan diberi nama mentereng-mentereng. **
Penulis ;







