Padahal Islam mengajarkan bahwa ilmu harus diperoleh dengan cara yang benar. Rasulullah SAW. bersabda: “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadist ini tidak hanya relevan dalam percakapan langsung, tetapi juga dalam aktivitas digital. Setiap komentar, unggahan, maupun informasi yang dibagikan di media sosial merupakan bagian dari akhlak seorang muslim. Jejak digital pada hakikatnya adalah jejak moral yang akan dinilai, baik oleh manusia maupun di hadapan Allah SWT.
Islam juga mengajarkan pentingnya tabayyun, yaitu memeriksa kebenaran suatu informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya. Allah SWT. Berfirman yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya…” (QS. Al-Hujurat: 6).
Nilai tabayyun menjadi semakin penting di era AI. Meskipun AI mampu menghasilkan jawaban yang cepat dan tampak meyakinkan, teknologi ini tetap dapat memberikan informasi yang kurang tepat atau tidak sesuai dengan konteks. Oleh karena itu, pengguna tidak boleh menerima setiap jawaban secara mentah. Sikap kritis, kemampuan memverifikasi informasi, dan tanggung jawab moral harus menjadi bagian dari literasi digital setiap muslim.
Di sisi lain, digitalisasi sesungguhnya membuka peluang besar bagi pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Guru tidak lagi terbatas pada buku cetak dan papan tulis. Video interaktif, animasi kisah para nabi, aplikasi Al-Qur’an digital, simulasi pembelajaran, hingga AI dapat membantu menciptakan pengalaman belajar yang lebih menarik dan kontekstual. AI bahkan dapat menjadi asisten guru dalam menyusun perangkat pembelajaran, membuat soal berbasis kemampuan berpikir tingkat tinggi, merancang media pembelajaran, maupun membantu peserta didik memahami materi dari berbagai sudut pandang. Namun, AI tetaplah alat. Ia tidak memiliki empati, keteladanan, keikhlasan, maupun sentuhan hati yang menjadi inti dari proses pendidikan.
Seorang guru PAI bukan hanya mentransfer pengetahuan, tetapi juga menanamkan akhlak melalui keteladanan. Nilai-nilai seperti kejujuran, amanah, tanggung jawab, kesabaran, dan kepedulian tidak dapat diajarkan hanya melalui algoritma. Semua itu tumbuh melalui interaksi antarmanusia. Karena itu, digitalisasi dalam Pendidikan Agama Islam tidak boleh dimaknai sebagai menggantikan peran guru dengan teknologi. Justru sebaliknya, teknologi harus menjadi sarana untuk memperkuat kualitas pembelajaran. Guru perlu meningkatkan kompetensi digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara kreatif, sementara peserta didik perlu dibimbing agar menggunakan AI sebagai alat untuk belajar, bukan sebagai jalan pintas menghindari proses berpikir.
Peran keluarga juga tidak kalah penting. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak. Orang tua perlu mendampingi penggunaan gawai, membangun komunikasi yang terbuka, serta memberikan teladan dalam menggunakan teknologi secara bijaksana. Pendidikan agama tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di masyarakat.
Pada akhirnya, masa depan pendidikan bukanlah memilih antara agama atau teknologi. Keduanya harus berjalan berdampingan. Teknologi memberikan kecepatan, sedangkan agama memberikan arah. Artificial Intelligence mampu menghasilkan jawaban dalam hitungan detik, tetapi tidak mampu menggantikan hati nurani, kebijaksanaan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Di tengah derasnya arus transformasi digital, Pendidikan Agama Islam memiliki misi yang semakin strategis, yaitu melahirkan generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki akhlak untuk mengendalikannya. Sebab, peradaban yang maju tidak hanya dibangun oleh kecerdasan buatan, melainkan oleh manusia yang memiliki kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kemuliaan akhlak.
Digitalisasi adalah keniscayaan yang tidak dapat dihentikan. Namun, nilai-nilai agama harus tetap menjadi kompas yang mengarahkan setiap langkah. Dengan demikian, teknologi tidak sekadar menjadi simbol kemajuan, tetapi juga menjadi jalan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi umat manusia. (***)
*Penulis adalah Dosen Pendidikan Agama Islam, Universitas Bangka Belitung







