Example floating
Example floating
ISLAM

Indonesia Sedikit Lagi Menjadi Episentrum Peradaban Islam Dunia

60
×

Indonesia Sedikit Lagi Menjadi Episentrum Peradaban Islam Dunia

Sebarkan artikel ini
UIN Syarif Hidayatullah, pada kajian Islamic Studies, masuk pada level 29 dunia.

JAKARTA – Menteri Agama R.I., Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, MA menyatakan, Indonesia sudah lebih dekat untuk dinyatakan sebagai episentrum peradaban Islam dunia. Hal ini dibuktikan dengan pengakuan dunia terhadap salah satu Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTKIN), UIN Syarif Hidayatullah, pada kajian Islamic Studies, masuk pada level 29 dunia.

Dibandingkan dengan kajian-kajian lain yang kian terseok-seok mengejar perkembangan keilmuan di perguruan tinggi luar negeri, Islamic Studies tinggal beberapa langkah lagi.

“Melihat perkembangan geopolitik dunia pada hari ini, Indonesia memiliki potensi khusus yang lebih dekat menuju puncak. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta berhasil menempati peringkat 29 dunia dalam bidang Theology, Divinity & Religious Studies pada pemeringkatan QS World University Rankings (WUR) by Subject 2026,” ungkap Nasaruddin memberi sambutan penutupan dan pengukuhan pengurus pada Pertemuan Nasional IKA PTKIN Indonesia, 24 April 2026, di Jakarta.

Optimisme terhadap Indonesia sebagai pusat peradaban ilmu pengetahuan agama dunia merupakan alasan penting namun perlu didorong bersama dengan kolaborasi, konsolidasi agar bisa berkontribusi untuk ummat dan dunia.

“Sesungguhnya, kita memang patut gelisah. Sebagai penduduk terpadat kelima di dunia, di dominasi ummat Islam, tak ada yang memenangkan hadiah nobel. What wrong. Tentu ada strategi nasional yang belum tersingkap. IKA PTKIN harus ikut memberi sumbang saran soal ini,” ujar Imam Besar Masjid Istiqlal ini di hadapan para pengurus IKA PTKIN yang baru terbentuk.

KA PTKIN wadah baru, entitas yang mengumpulkan seluruh ketua Iluni dari 59 PTKIN. Nasaruddi mengharapkan agar tokoh-tokoh alumni mampu membicarakan, menggali, mencari, berbagai potensi ummat agar bisa memberi kontribusi nyata untuk bangsa.

“Tokoh-tokoh alumni harus membicarakan ini, geopolitik, geo-emosional, geo-intelektual dan geo-spiritual. Beri masukan kepada rektor yang asyik sendiri dengan tugas beratnya di kampus. Dan perubahan dan perkembangan teknologi memaksa kita berpikir ulang tentang defenisi kampus yang dulu sebagai tempat mencari ilmu. Jangan-jangan kini, sudah bergeser. Apalagi jika dosennya belum berubah, mungkin masih dictator, mungkin juga tidak mengembangkan diri sementara zaman terus berubah,” ungkapnya di hadapan segenap jajaran Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama R.I, para rector dan para pengurus alumni dari masing-masing PTKIN.

Baca Juga:  Indonesia Bangun Rumah Budaya Syekh Yusuf Al-Makassari di Afrika Selatan

Dunia terus berubah cepat dan kampus mesti berubah. Para alumni punya tanggung jawab memberi masukan, bermitra sebab alumni adalah cermin mutu dari almamaternya. Jika alumninya tidak ada kejutan kemajuan, berarti perguruan tingginya perlu diperiksa kembali. Alumni mesti membangun konektivtas dengan kampus, alumni harus punya hubungan emosional.

“Alumni UIN seluruh Indonesia merupakan potensi sangat strategis untuk membuat sesuatu yang besar. Kalau hanya kerja dengan per UIN, itu hanya kerja lokal saja. Kalau bersinergi, ada kemungkinan menjadi pusat gerakan peradaban,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

slot777 https://www.olx69.us.com/ https://olx69.uk.com/ olx69 olx69 olx69