Yogi meminta Pertamina memaparkan secara terbuka kondisi stok, kuota, dan realisasi penyaluran BBM di setiap kabupaten dan kota di Babel.
Menurutnya, perlu ada kejelasan apakah antrean disebabkan keterbatasan pasokan, jadwal distribusi, kapasitas pelayanan SPBU, atau dugaan penyimpangan yang perlu ditelusuri.
”Yang jadi pertanyaan masyarakat adalah apa sih penyebab utama antrean ini? Apakah masalahnya pada pasokan, jadwal distribusi, kapasitas pelayanan SPBU, atau ada di bagian penyimpangan yang harus ditelusuri?” ujarnya.
Ia juga meminta pemilik SPBU menjelaskan kondisi stok, kendala operasional, serta sistem pelayanan dan pengaturan antrean.
Sementara itu, aparat penegak hukum diminta memperketat pengawasan dan menindaklanjuti apabila ditemukan pelanggaran. Yogi berharap RDP tersebut menghasilkan langkah konkret, bukan sekadar pembahasan tanpa penyelesaian.
Ia menegaskan masyarakat tidak seharusnya terus diminta bersabar tanpa kepastian mengenai penyebab dan solusi antrean BBM. “Kalau masalahnya pasokan, benahi pasokannya. Kalau masalahnya distribusi, benahi distribusinya. Kalau ada pelanggaran, tindak ke ranah hukum,” tegasnya. (rea)







