Tidak hanya itu, Andre menegaskan setiap unit Huntara tidak diserahkan dalam kondisi kosong. Pemerintah melengkapi hunian dengan kasur, kipas angin, hingga lemari untuk menunjang kenyamanan warga selama menempati Huntara.
Pembangunan Huntara dilakukan secara serentak di tiga wilayah terdampak bencana terparah di Sumatera Barat. Di Padang Pariaman, tepatnya Batang Anai, dibangun sebanyak 40 unit dengan progres mencapai 90 persen. Sementara di Kabupaten Agam, kawasan Tanjung Raya, dibangun 50 unit yang tersebar di Linggai sebanyak 30 unit dan Bancah 20 unit. Adapun di Kabupaten Tanah Datar, Malalo, dibangun 28 unit Huntara.
Project Manager PT Nindya Karya, Syafriwal, menjelaskan kawasan Huntara didesain sebagai hunian sementara yang dilengkapi fasilitas komunal. Fasilitas tersebut meliputi delapan unit toilet, dua dapur umum, serta area cuci dan jemuran.
Selain itu, tersedia ruang komunal berukuran 4×8 meter untuk aktivitas dan pertemuan warga. Setiap unit Huntara juga telah terhubung dengan listrik PLN berdaya 900 watt serta dilengkapi jaringan Wi-Fi.
Kawasan Huntara juga menyediakan lahan terbuka yang dapat dimanfaatkan warga sebagai lapangan olahraga, baik untuk sepak bola mini maupun badminton.







