Saparudin terutama menyoroti penggunaan AI dalam lingkungan akademik. Guru maupun siswa, kata dia, tetap harus memegang prinsip ilmiah ketika menggunakan informasi yang dihasilkan kecerdasan buatan.
“Di dunia pendidikan tentunya harus tetap ada bukti ilmiahnya. Misalnya kita mengatakan, ‘Oh, saya mengutip dari AI’, harus disebutkan,” ujar dia.
Bagi Saparudin, teknologi seharusnya menjadi alat bantu untuk memperkuat pembelajaran, bukan menggantikan proses berpikir. Guru tetap memiliki peran penting dalam memastikan informasi yang diterima siswa benar, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, perubahan teknologi juga harus diikuti peningkatan kapasitas tenaga pendidik. Profesionalisme guru tidak hanya diukur dari kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga dari ketelitian dalam memilah informasi dan menjaga integritas akademik.
Seminar tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapan guru dan karyawan sekolah menghadapi perubahan dunia pendidikan. Di tengah semakin mudahnya akses terhadap AI, tantangan bagi pendidik bukan lagi sekadar mengetahui teknologi, melainkan memastikan teknologi digunakan dengan benar.
Saparudin berharap guru di Pangkalpinang mampu menjadi bagian dari perubahan tersebut tanpa kehilangan prinsip dasar pendidikan.
Teknologi boleh membantu mencari jawaban. Tetapi, kata dia, guru tetap harus memastikan jawaban itu memiliki dasar yang benar. (Rea)







