Example floating
Example floating
OPINIUBB

Ketika Artificial Intelligence (AI) Masuk ke Ruang Kelas Pendidikan Agama Islam

231
×

Ketika Artificial Intelligence (AI) Masuk ke Ruang Kelas Pendidikan Agama Islam

Sebarkan artikel ini

Oleh: Feni Yulianti, M.Pd.

“Bu, saya tidak mengerjakan tugas ini sendiri. Saya minta AI yang membuatnya.” Kalimat seperti ini mulai akrab di telinga banyak guru dan dosen.

Di berbagai sekolah dan perguruan tinggi, Artificial Intelligence (AI) telah menjadi “teman belajar” baru bagi peserta didik. Dalam hitungan detik, AI mampu menjawab pertanyaan, merangkum materi, menerjemahkan bahasa, bahkan menyusun esai yang tampak rapi dan meyakinkan. Di sisi lain, para pendidik juga mulai memanfaatkan teknologi ini untuk membuat media pembelajaran, menyusun soal, hingga merancang bahan ajar yang lebih menarik.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, tetapi telah hadir di ruang-ruang kelas hari ini. Kehadirannya membawa kemudahan sekaligus tantangan. Teknologi memang mampu mempercepat pekerjaan manusia, tetapi belum tentu mampu membentuk karakter manusia. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah, bagaimana posisi Pendidikan Agama Islam (PAI) di tengah derasnya arus digitalisasi?

Jawabannya sederhana, tetapi sangat penting yaitu PAI justru semakin dibutuhkan.

Kita hidup pada masa ketika informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik. Bangun tidur, banyak orang lebih dahulu membuka telepon genggam daripada menyapa anggota keluarga. Berita, video, ceramah agama, hingga jawaban atas berbagai persoalan dapat ditemukan hanya dengan mengetik beberapa kata di layar. Dunia digital telah mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, bahkan berpikir.

Namun, kemudahan memperoleh informasi tidak selalu diikuti dengan kemampuan memahami kebenaran. Banyak orang mampu menemukan jawaban, tetapi belum tentu mampu menilai apakah jawaban tersebut benar, bermanfaat, atau justru menyesatkan. Di sinilah Pendidikan Agama Islam memiliki peran yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.

PAI bukan sekadar mata pelajaran yang mengajarkan tata cara ibadah atau hukum-hukum Islam. Lebih dari itu, PAI membentuk cara berpikir, cara bersikap, dan cara mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai Al-Qur’an dan Sunnah. Teknologi dapat membuat seseorang lebih cepat memperoleh informasi, tetapi agama mengajarkan bagaimana menggunakan informasi tersebut secara benar dan bertanggung jawab.

Baca Juga:  Hari Pertama UTBK-SNBT UBB 2024 Berjalan Lancar

Allah SWT. Berfirman dalam surat Al-Mujadilah ayat 11 yang artinya “…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat…”. Ayat ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Karena itu, perkembangan teknologi, termasuk AI, bukan sesuatu yang harus ditakuti atau ditolak. Sebaliknya, teknologi adalah hasil ikhtiar manusia yang dapat dimanfaatkan untuk kemaslahatan selama penggunaannya berada dalam koridor nilai-nilai Islam.

Persoalannya bukan terletak pada teknologinya, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Hari ini kita menyaksikan berbagai persoalan yang lahir dari ruang digital. Penyebaran hoaks, ujaran kebencian, penipuan daring, perundungan siber (cyberbullying), kecanduan media sosial, hingga praktik plagiarisme berbantuan AI semakin sering terjadi. Tidak sedikit peserta didik yang menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin. Tugas selesai lebih cepat, tetapi proses belajar justru hilang. Nilai mungkin tinggi, tetapi kemampuan bernalar dan kejujuran akademik perlahan melemah.

Tinggalkan Balasan

slot777 https://www.olx69.us.com/ https://olx69.uk.com/ olx69 olx69 olx69