Example floating
Example floating
HEADLINE

Mengenal Tradisi Peh Cun di Bangka, Dari Bakcang hingga Kisah Qu Yuan

16
×

Mengenal Tradisi Peh Cun di Bangka, Dari Bakcang hingga Kisah Qu Yuan

Sebarkan artikel ini
Foto : Dato' Akhmad Elvian.

PANGKALPINANG – Perayaan Peh Cun di Pulau Bangka tidak hanya identik dengan bakcang atau kue cang. Di balik tradisi melempar bakcang ke laut, tersimpan sejarah panjang tentang penghormatan kepada Qu Yuan, seorang pejabat Tiongkok yang dikenang karena kejujuran, kesetiaan, dan pengabdiannya kepada rakyat.

Tradisi tersebut telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Tionghoa di Bangka sejak kedatangan mereka ke pulau ini pada 1724. Hingga kini, ritual itu masih menjadi bagian penting dalam perayaan Peh Cun yang digelar setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek atau dikenal sebagai Ng Ngiat Ciat.

Sejarawan dan Budayawan penerima Anugerah Kebudayaan Indonesia, Dato’ Akhmad Elvian, menjelaskan bahwa Peh Cun dalam dialek Hokkian berarti “mendayung perahu”. Perayaan ini merupakan bentuk penghormatan terhadap Qu Yuan yang hidup pada masa Negara Chu sekitar 339–277 Sebelum Masehi.

Qu Yuan dikenal sebagai pejabat yang jujur dan setia kepada negaranya. Namun, setelah kecewa terhadap kondisi pemerintahan saat itu, ia memilih mengakhiri hidup dengan menceburkan diri ke Sungai Miluo.

Untuk mengenang jasa dan pengorbanannya, masyarakat kemudian membuat tradisi melempar bakcang ke sungai atau laut sebagai simbol agar ikan tidak memakan jasad Qu Yuan.

Di Bangka, tradisi tersebut masih terus dilestarikan. Setelah dibuat dari ketan yang dibungkus daun pandan atau daun bambu dengan isian daging babi, ayam, maupun udang, bakcang tidak hanya disantap bersama keluarga, tetapi juga dibawa ke pantai untuk dilemparkan ke laut.

Tradisi itu dilakukan di sejumlah kawasan pesisir yang memiliki sejarah permukiman masyarakat Tionghoa, seperti Pantai Buntu di Mentok, Pantai Sabang di Toboali, Pantai Komuk di Koba, Pantai Pinang di Pangkalpinang, Pantai Liusak di Baturusa, Pantai Liatkong di Sungailiat, Pantai Blijong di Belinyu, hingga Pantai Nampong di Jebus.

Baca Juga:  Pemkot Pangkalpinang Dukung Program IDAMAN

Menurut Elvian, perayaan Peh Cun di Bangka memiliki kekhasan dibanding daerah lain. Jika di beberapa wilayah tradisi ini lebih dikenal dengan mendirikan telur, masyarakat Tionghoa Bangka justru lebih lekat dengan tradisi membuat dan melempar bakcang ke laut.

Selain sarat nilai sejarah, Peh Cun juga berkaitan dengan fenomena alam. Pada periode tersebut, air laut di Bangka biasanya mengalami surut cukup tinggi sehingga hamparan pantai tampak lebih luas. Fenomena ini terjadi saat matahari berada di titik kulminasi dan mencapai posisi tertinggi sekitar pukul 12.00 siang.

Momentum tersebut juga dimanfaatkan para sinshe atau tabib tradisional untuk mencari tanaman obat yang diyakini memiliki kualitas terbaik. Tanaman itu kemudian digantung di depan rumah sebagai bagian dari tradisi yang dipercaya membawa manfaat bagi kesehatan.

Masyarakat Tionghoa juga mengenal tradisi Ng Sie Sui, yakni menyiramkan air yang telah dicampur bunga ke tubuh sebagai simbol penyucian diri sekaligus harapan memperoleh kesehatan dan keberkahan.

Sementara itu, tradisi mendirikan telur yang sering dikaitkan dengan Peh Cun sebenarnya lebih merupakan permainan keseimbangan. Secara ilmiah, telur dapat berdiri tegak kapan saja di atas permukaan datar apabila diletakkan dengan keseimbangan yang tepat, bukan karena pengaruh gravitasi yang berubah saat perayaan berlangsung.

Seiring perkembangan zaman, Peh Cun tidak lagi menjadi milik masyarakat Tionghoa semata. Tradisi ini telah berkembang menjadi bagian dari kekayaan budaya Bangka Belitung yang dinikmati berbagai kalangan.

Bahkan, bakcang yang dahulu identik dengan perayaan Peh Cun kini dapat ditemukan sepanjang tahun. Dalam perspektif gastronomi, kuliner ini dinilai memiliki potensi besar sebagai bagian dari pengembangan wisata kuliner (gastrodestinasi) sekaligus diplomasi budaya daerah (gastrodiplomasi).

Baca Juga:  Jadi Presiden Anies Tidak Akan Gunakan Buzzer

Lebih dari sekadar tradisi tahunan, Peh Cun menjadi pengingat bahwa nilai kejujuran, kesetiaan, dan penghormatan terhadap sejarah dapat terus hidup melalui budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Di Bangka, jejak itu masih terjaga, bahkan dari sebungkus bakcang yang setiap tahun dibawa menuju tepian laut. (*)

 

Tinggalkan Balasan

slot777 https://www.olx69.us.com/ https://olx69.uk.com/ olx69 olx69 olx69