Lalu kuat kan produksi dengan konten real time lewat eksplor visual dengan video pendek dan info grafis. “Selain itu berita human interest ini sulit disajikan AI karena tampilan AI tidak punya emosi, namun AI bisa dapat alogoritma, juga etika jurnalis harus selalu menjadi roh profesi wartawan di tengah hiruk pikuk konten kecerdasan buatan,”ujar Nezar pada sesinya dimoderatori Sekjen Zulmansyah Sakedang.
Selain itu,kuatnya nilai dasar bela negara Indonesia, ternyata AI bisa saja menggerus kehidupan berbangsa dan bernegara. “Jika wartawan tidak bijak gunakan AI, karena resiko AI, rentan misinfomasi,”ujar Nezar.
Seperti banyak diperlihatkan AI Flog konten palsu tapi digandrungi publik yaitu bagaimana AI bisa membuat background video dan foto apa saja, meski sobjek tidak pernah di background itu.
Menurut pemerhati media sosial Adrian Toaik, soal AI atau apa saja kurenah Medsos, pemerintah harus sigap. “Jangan karena menghormati kebebasan ekspresi, tapi karena pelintiran, framing palsu, justru berdampak pada harmonis berbangsa dan bernegara. Harusnya Komdigi punya ‘penangkal petir’ untuk konten merusak nilai nilai cinta tanah air untuk keutuhan bangsa dan negara,”ujar Toaik. (*)







