Kapal OB Royal 1 yang membawa Pertamax dan Pertalite dijadwalkan tiba pada 25 September, kemudian SPOB Seagul 201 pada 27 September. Kedua jadwal tersebut masih bergantung pada kondisi cuaca dan pasang surut.
Selain melalui kapal, tiga unit mobil tangki Pertamax telah dikirim melalui jalur ASDP pada 19 dan 22 September.
Edi meminta tambahan pasokan dibarengi distribusi yang merata. Menurutnya, ukuran pemulihan bukan hanya jumlah BBM yang masuk ke terminal, tetapi kemudahan masyarakat memperoleh BBM di SPBU.
“Ukuran keberhasilannya adalah masyarakat semakin mudah mendapatkan BBM. Kami meminta Pertamina memastikan berapa yang benar-benar disalurkan, SPBU mana saja yang menerima, serta kapan pelayanan ditargetkan kembali normal,” tuturnya.
Pertamina juga menginstruksikan SPBU beroperasi pukul 06.30–20.00 WIB serta mengoptimalkan operator di setiap pulau pompa. Edi meminta kebijakan pelayanan tersebut berjalan seiring dengan kecukupan stok.
“Antrean panjang menyita waktu masyarakat dan mengganggu kegiatan ekonomi. Warga Belitung dan Belitung Timur membutuhkan pelayanan yang lancar, termasuk kepastian tersedianya kembali Pertamax agar masyarakat memiliki pilihan sesuai kebutuhannya,” ujarnya.
Sementara itu, Pertamina meminta pemerintah daerah memetakan kebutuhan BBM berdasarkan sektor.
Edi mendukung langkah tersebut sebagai dasar evaluasi distribusi dan pengusulan tambahan kuota jika kebutuhan riil masyarakat memerlukannya.
“Pemetaan kebutuhan perlu segera dikerjakan bersama. Pada saat yang sama, pemulihan pasokan harus terus berjalan. Kami ingin kebutuhan masyarakat ditangani secara nyata dan distribusinya dapat dipantau dengan jelas,” kata Edi. (***)







