Menurut dia, selama ini pemanfaatan FABA umumnya diarahkan untuk kebutuhan konstruksi, seperti pembuatan conblock, batako, dan berbagai kebutuhan pembangunan lainnya.
Namun, pemanfaatan FABA sebagai bahan pupuk menunjukkan adanya peluang baru yang dapat mendukung sektor pertanian dan ketahanan pangan.
“Selama ini kan hanya untuk konstruksi saja, untuk conblock, untuk kegiatan-kegiatan bangunan dan lain-lain. Ternyata ini bisa untuk mendukung ketahanan pangan,” katanya.
Rizal mengatakan PLN akan mendorong agar pemanfaatan FABA untuk sektor pertanian tidak berhenti di Bangka Belitung. Program tersebut akan dikembangkan di berbagai wilayah yang memiliki PLTU sehingga masyarakat di sekitar pembangkit dapat memperoleh manfaat langsung.
Ia menilai keberadaan FABA di sekitar PLTU dapat menjadi bagian dari ekosistem baru untuk meningkatkan produktivitas pertanian masyarakat.
Pengembangan pemanfaatan FABA tersebut dilakukan dengan melihat praktik yang telah berjalan di Bangka Belitung, termasuk pengolahan FABA bersama bahan organik menjadi pupuk.
PLN akan mengevaluasi dan mengembangkan model tersebut agar dapat diterapkan di pembangkit lain di Indonesia sebagai bagian dari optimalisasi pemanfaatan FABA sekaligus mendukung ekonomi masyarakat dan ketahanan pangan nasional. (***)







