Selain untuk pertanian, PLN telah mengembangkan pemanfaatan FABA untuk berbagai kebutuhan konstruksi dan lingkungan. Di PLTU Air Anyir, produksi FABA rata-rata mencapai 26.802 ton per tahun dan pemanfaatannya terus dioptimalkan untuk berbagai produk, antara lain pupuk atau pembenah tanah, batako, material subgrade, serta kebutuhan konstruksi lainnya.
General Manager UIK Dwipantara, Rita Triani, mengatakan pemanfaatan FABA di PLTU Bangka terus dikembangkan agar dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan, termasuk melalui kolaborasi dengan masyarakat dan pembentukan kelompok binaan di sekitar pembangkit.
“Pemanfaatan FABA ini terus kami optimalkan, termasuk untuk pupuk yang sudah menghasilkan lebih dari 25 ribu karung dan telah dimanfaatkan di berbagai wilayah Bangka Belitung. Ke depan, kami ingin pemanfaatannya semakin berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar,” ujar Rita.
General Manager PLN UIW Bangka Belitung, Ira Savitri, mengatakan pemanfaatan FABA yang dikembangkan di Bangka Belitung merupakan bagian dari upaya PLN untuk memberikan manfaat yang lebih luas dari proses pembangkitan kepada masyarakat.
“Kami ingin apa yang sudah dikembangkan di Bangka Belitung ini terus memberikan manfaat dan dapat berkembang bersama masyarakat. Kolaborasi yang sudah terbangun akan terus kami dorong agar pemanfaatan FABA semakin optimal dan memberikan nilai tambah bagi lingkungan maupun masyarakat,” ujar Ira.
Sementara itu, Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Patijaya mengapresiasi kolaborasi PLN dengan FORMAP yang telah berjalan selama beberapa tahun dan menunjukkan perkembangan dalam pemanfaatan FABA untuk sektor pertanian.
Menurutnya, pengembangan yang dilakukan PLN di Bangka Belitung menunjukkan bahwa FABA yang sebelumnya banyak dimanfaatkan untuk kebutuhan konstruksi juga memiliki potensi untuk mendukung sektor pertanian.
“Kami berharap kerja sama ini dapat kita tingkatkan dan optimalkan. FABA yang sebelumnya banyak dikembangkan untuk kebutuhan konstruksi, ternyata juga dapat dimanfaatkan untuk pupuk. Hasilnya menggembirakan dan biaya pemupukannya juga lebih murah,” ujar Bambang.
Bambang berharap pengembangan yang telah dilakukan PLN bersama FORMAP di Bangka Belitung dapat terus diperkuat dan menjadi contoh bagi pengembangan pemanfaatan FABA di wilayah lainnya.
“Kami berharap dari kerja sama ini dapat menjadi satu program nasional, PLN dapat melakukan optimalisasi hilirisasi FABA untuk mendukung pangan,” katanya.
Selain melalui FORMAP, PLN juga mengembangkan pemanfaatan FABA melalui berbagai program TJSL di Bangka Belitung. Di antaranya Kampung Bahari Nusantara TNI AL Bangka Belitung, dengan pemanfaatan FABA sebagai pemberat attractor pada rumpon hybrid untuk mendukung restocking dan budidaya cumi berkelanjutan. FABA juga dimanfaatkan sebagai pupuk dalam program penanaman 12.500 pohon Kaliandra di Gunung Asam, Belinyu.
Berbagai inisiatif tersebut menjadi bagian dari upaya PLN mengembangkan pemanfaatan FABA secara lebih luas melalui kolaborasi dengan masyarakat dan pemangku kepentingan. Dari proses pembangkitan, FABA terus diarahkan menjadi material yang memberikan nilai tambah bagi pertanian, lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan ekonomi sirkular.
Melalui pengembangan yang telah berjalan di Bangka Belitung, PLN terus mendorong pemanfaatan FABA secara optimal agar manfaatnya dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat, sekaligus mendukung ketahanan pangan dan keberlanjutan lingkungan. (***)







