Pertamina juga mengirim tiga unit mobil tangki Pertamax melalui jalur ASDP pada 19 dan 22 September.
Edi mengatakan tambahan pasokan harus disertai distribusi yang merata. Menurut dia, indikator pemulihan bukan sekadar jumlah BBM yang masuk ke terminal, melainkan kemudahan masyarakat mendapatkannya di SPBU.
“Ukuran keberhasilannya adalah masyarakat semakin mudah mendapatkan BBM. Kami meminta Pertamina memastikan berapa yang benar-benar disalurkan, SPBU mana saja yang menerima, serta kapan pelayanan ditargetkan kembali normal,” katanya.
Pertamina menginstruksikan SPBU beroperasi mulai pukul 06.30 hingga 20.00 WIB dan mengoptimalkan operator pada setiap pulau pompa. Edi meminta pengaturan pelayanan tersebut didukung ketersediaan BBM yang memadai.
Dia juga menyoroti antrean panjang yang dinilai menyita waktu warga dan berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi.
“Warga Belitung dan Belitung Timur membutuhkan pelayanan yang lancar, termasuk kepastian tersedianya kembali Pertamax agar masyarakat memiliki pilihan sesuai kebutuhannya,” ujar Edi.
Pertamina meminta pemerintah daerah memetakan kebutuhan BBM berdasarkan sektor. Edi mendukung langkah tersebut sebagai bahan evaluasi distribusi dan dasar pengusulan tambahan kuota jika diperlukan.
“Pemetaan kebutuhan perlu segera dikerjakan bersama. Pada saat yang sama, pemulihan pasokan harus terus berjalan. Kami ingin kebutuhan masyarakat ditangani secara nyata dan distribusinya dapat dipantau dengan jelas,” katanya. (*)







