“Kemarin bersama pihak BP3MI, kita telah melaksanakan pelatihan untuk pengiriman tenaga kerja profesional ke Arab Saudi. Program ini terus kita gulirkan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Pemerintah kota juga tengah menyiapkan program rekrutmen dan pelatihan intensif bagi calon pekerja yang akan ditempatkan di Jepang. Program tersebut direncanakan berlangsung sekitar enam bulan dengan sistem pelatihan terpusat berbasis asrama.
Selama pelatihan, peserta akan dipersiapkan dari sisi keterampilan, kemampuan bahasa, kedisiplinan, serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja di negara tujuan.
Saparudin menegaskan, pelatihan kerja harus menghasilkan tenaga kerja yang memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar.
Pelatihan yang difasilitasi melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Kementerian Ketenagakerjaan RI, menurut dia, perlu disertai pengujian kompetensi dan sertifikasi berstandar nasional.
“Pelatihan ini tidak boleh biasa-biasa saja. Harus ada kompetensi dan sertifikasi minimal tingkat nasional. Dengan begitu, anak-anak kita tidak hanya siap bekerja di Pangkalpinang, tetapi juga memiliki daya saing untuk bekerja di Jakarta, daerah lain di Indonesia, bahkan luar negeri,” tegasnya.
Melalui Job Fair dan program pelatihan tersebut, Pemkot Pangkalpinang berupaya memperluas pilihan bagi pencari kerja, mulai dari memperoleh pekerjaan di daerah sendiri hingga menjangkau pasar kerja nasional dan internasional.
Peningkatan kompetensi menjadi salah satu langkah yang didorong pemerintah daerah agar pencari kerja tidak hanya memiliki akses terhadap lowongan, tetapi juga memenuhi kualifikasi yang dibutuhkan perusahaan.
Penyelenggaraan Job Fair 2026 sekaligus menjadi sarana mempertemukan kebutuhan dunia usaha dengan ketersediaan tenaga kerja.
“Keberlanjutan program ini diharapkan dapat mendukung upaya memperluas kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran di Kota Pangkalpinang,” kata Saparudin. (*)







