Menbud kemudian menggarisbawahi berbagai praktik kearifan lokal yang berperan sebagai infrastruktur adaptasi. “Misalnya filosofi Tri Hita Karana di Bali, praktik Sasi di Maluku dan Papua serta Menumbai di Riau sebagai mekanisme konservasi tradisional, juga Arat Sabulungan di Mentawai yang menegaskan keseimbangan manusia dan alam melalui hukum adat,” jelasnya.
Indonesia siap bekerja sama memperkuat integrasi budaya dalam strategi adaptasi global, serta mengangkat suara masyarakat adat dan penjaga warisan sebagai bagian dari solusi iklim dunia. “Semua ini membuktikan bahwa budaya adalah kekuatan nyata untuk menghadapi iklim. Namun tanpa dukungan dan kerja sama semua pihak, termasuk melalui kolaborasi antar negara, upaya ini tidak bisa berdiri sendiri,” tegas Fadli.
Pertemuan ini menghasilkan Deklarasi Barcelona yang menegaskan bahwa budaya adalah aset yang rentan sekaligus instrumen strategis dalam adaptasi iklim. Menteri Kebudayaan Spanyol, Ernest Urtasun, menyebut pertemuan ini sebagai momentum penting yang menunjukkan bagaimana budaya bisa menjadi solusi bersama.
Menteri Kebudayaan Brasil, Margareth Menezez, menyambut baik partisipasi Indonesia. “Selamat datang, Menteri Fadli. Terima kasih telah bergabung dan aktif dalam menyuarakan isu ini,” ujarnya. Ia juga menekankan pentingnya dialog ini untuk mendorong budaya masuk ke agenda iklim COP30 di Belém, Brasil, pada November mendatang
Menbud Fadli menyebut hal ini sebagai bagian penting dari diplomasi budaya Indonesia. “Partisipasi Indonesia dalam forum ini memperkuat posisi kita di panggung dunia. Di tingkat global, budaya tidak boleh ditempatkan sebagai isu pinggiran, tetapi harus menjadi arus utama dalam agenda iklim dan pilar utama dalam pembangunan berkelanjutan pasca-2030. Diplomasi budaya adalah instrumen strategis kita untuk membawa pesan ini,” ujarnya.
Kementerian Kebudayaan akan terus memperluas peran Indonesia dalam jejaring internasional termasuk GFCBCA dan UNESCO. “Inilah cara kita menjaga warisan bangsa, menginspirasi dunia, dan memastikan bahwa budaya menjadi solusi bagi krisis iklim, bagi generasi hari ini dan yang akan datang,” pungkas Fadli. (*)







