Noni juga meminta pemerintah setempat melibatkan nelayan dalam upaya pemenuhan gizi keluarga. Ia menyarankan agar sebagian hasil tangkapan disisihkan untuk konsumsi rumah tangga sebelum dijual.
“Pak Lurah, silakan arahkan nelayan lokal untuk menyisihkan sebagian ikan hasil tangkapan sebelum dijual ke pasar, supaya bisa dikonsumsi keluarga di rumah,” katanya.
Selain sosialisasi, Noni menyerahkan paket olahan ikan kepada sejumlah warga. Bantuan tersebut diharapkan memperkenalkan variasi menu ikan yang lebih menarik bagi anak-anak.
Martina, salah seorang penerima bantuan yang memiliki anak berusia 1,5 tahun, mengatakan keluarganya sudah terbiasa makan ikan karena suaminya bekerja sebagai nelayan. Namun, selama ini ikan umumnya hanya digoreng atau dikukus.
“Ini sangat membantu saya untuk memperkenalkan olahan ikan dengan variasi bentuk dan rasa yang berbeda supaya anak tidak bosan dan makin lahap makan ikannya,” ujar Martina.
Melalui Gemarikan, Forikan Babel mendorong perubahan kebiasaan konsumsi ikan di tingkat keluarga. Harapannya, kekayaan hasil laut dapat dimanfaatkan lebih optimal untuk mendukung pemenuhan gizi ibu dan anak serta memperkuat upaya pencegahan stunting. (*)







