Example floating
Example floating
AGAMA

Hari Raya Idul Fitri, Sejarah dan Esensinya

179
×

Hari Raya Idul Fitri, Sejarah dan Esensinya

Sebarkan artikel ini

DALAM sejarah Islam, perayaan Idul Fitri pertama kali diselenggarakan pada tahun 624 Masehi atau tahun ke-2 Hijriyah. Waktu perayaan tersebut bertepatan dengan selesainya Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum Muslimin. Kemenangan itu menjadi sejarah bahwa di balik perayaan Idul Fitri ada histeria dan perjuangan para sahabat untuk meraih kemenangan dan menjayakan Islam.

Setelah kemenangan diraih umat Islam, secara tidak langsung mereka merayakan dua kemenangan, yaitu kemenangan atas dirinya yang telah berhasil berpuasa selama satu bulan, dan kemenangan dalam perang badar.

Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Risalah fil Aqaid menjelaskan bahwa dua hari yang setiap tahunnya digunakan untuk pesta pora oleh kaum jahiliyah itu disebut dengan hari Nairuz dan Marjaan. Dalam setiap tahunnya, dua hari ini digunakan untuk pesta pora, dan di isi dengan mabuk-mabukan dan menari.

Dikatakan, bahwa Nairuz dan Marjaan merupakan hari raya orang Persia kuno. Setelah turunnya kewajiban puasa Ramadhan, Rasulullah SAW mengganti Nairuz dan Marjaan dengan hari Idul Fitri dan Idul Adha. Tujuannya, agar umat Islam mempunyai tradisi yang lebih baik dan sejalan dengan apa yang disyariatkan oleh Allah subhanahu wata’ala.” (Lihat, Risalah fil Aqaid, juz 3, h. 68)

Berdasarkan buku Ensiklopedi Islam, kedua hari raya tersebut sejatinya berasal dari zaman Persia Kuno yang kemudian setelah Rasulullah SAW memperoleh wahyu mengenai kewajiban puasa Ramadhan, akhirnya kedua hari raya itu diganti menjadi hari yang lebih baik dengan perayaan yang baik pula, yakni Idul Fitri dan Idul Adha. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW sebagai berikut:

“An Anasibni Maliki Qoola Kaana liahliljaahiliyyatiyaumaani fii kulli sanatin yal’abuuna fiihimaa falammaa qodimannabiyyu shollallahualaihiwasallam almadiinata qoola kaana lakum yaumaani tal’abuuna fiihimaa waqod abdalakumullahu bihima khoiron minhumaa yaumal fithra wayaumal adhha.”

“Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW bersabda: Kaum jahiliyah dalam setiap tahunnya memiliki dua hari yang digunakan untuk bermain. Ketika Nabi Muhammad datang ke Madinah, Rasulullah bersabda: Kalian memiliki dua hari yang biasa digunakan bermain, sesungguhnya Allah telah mengganti dua hari itu dengan hari yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Baca Juga:  Makhluk Mitologi Islam Berdasarkan Al-Qur'an dan Hadis Nabi SAW

Begitupun Imam al-Baihaqi dalam kitabnya, as-Sunanul Kubra, menampilkan bunyi haditsnya secara jelas. Rasulullah SAW bersabda:

“An Abdillahibni ‘amrin wa qaala: Man banaa fii bilaadil a’aajimi fashona’a nauru wa zahum wamihra jaanahum watasyabbaha bihim hatta yamuuta wahuwa kadzaalika husyira m’ahum yaumalqiyaamati.”

slot777 https://www.olx69.us.com/ https://olx69.uk.com/ olx69 olx69 olx69