Example floating
Example floating
PENDIDIKAN

DPRD Jambi Minta Seleksi PPPK Diusut Imbas Curhatan Guru Epi

100
×

DPRD Jambi Minta Seleksi PPPK Diusut Imbas Curhatan Guru Epi

Sebarkan artikel ini
Example 468x60

REALITA.NEWS, JAMBI – Anggota DPRD Jambi dari Dapil Kerinci-Sungai Penuh, Fadli Sudria ikut merespon soal curahan hati seorang guru honorer bernama Epi Sartika yang tidak lulus PPPK karena diduga dicurangi. Fadli mengaku, kejadian ini sudah banyak dilaporkan kepadanya baik di Kota Sungai Penuh dan Kabupaten Kerinci.

“Perlu saya sampaikan bahwa soal adanya dugaan kecurangan di penerimaan PPPK itu tentu hari ini saya sudah banyak menerima pengaduannya. Maka saya minta bagi mereka yang merasa dicurangi segera laporkan ke pihak berwajib ataupun Ombudsman biar cepat diusut,” kata Fadli Sudria kepada detikSumbagsel, Senin (25/12/2023).

Fadli menjelaskan dirinya selalu didatangi oleh guru-guru honorer di Kabupaten Kerinci maupun Kota Sungai Penuh, mereka meminta bantuan agar bisa menyikapi soal hasil PPPK itu yang diduga diwarnai dengan kecurangan.

“Jadi sebelum heboh yang di Sungai Penuh, Kerinci dulu ya yang lebih dulu keluarkan hasil pengumuman PPPK ini, lalu setelah Kerinci baru Sungai Penuh keluarkan hasil pengumumannya. Ini yang saya dapat info ya, bagi mereka yang nilai Computer Assisted Test (CAT)nya tinggi bisa kalah dengan mereka yang CATnya rendah, kenapa bisa? itulah adanya kebijakan 30 persen daerah,” terang Fadli.

Kata Fadli, 30 persen kebijakan daerah itu berupa SKTT yang mana SKTT itu adalah Seleksi Kompetensi Teknis Tambahan. Menurut dia, SKTT itu merupakan nilai tambahan yang sebenarnya tidak perlu ada di tingkat daerah melainkan kementerian.

“Harusnya apa yang dihasilkan dari CAT kemarin itulah hasilnya bisa lulus atau tidak lulusnya jangan ada tambahan lagi dengan SKTT. Harusnya itu tidak ada SKTT ini, dan kalau ada SKTT sampaikan sejak awal jangan pas diakhir-akhir baru ada. Sebagai anggota DPRD saya mempertanyakan soal itu,” beber Fadli.

Fadli menyebut, diduga ada sekitar ratusan guru honorer baik Kerinci dan Sungai Penuh yang mengalami hal yang sama seperti guru honorer Epi Sartika. Mereka merasa diduga dicurangi juga dengan hasil tinggi namun gagal lulus PPPK.

“Kita tak ingin soal penerimaan PPPK ini jadi permainan, kita mau soal ini harus transparan. Sebagai dewan, tentu saya mengingatkan kepada pemerintah setempat baik Pemda Kerinci dan Pemkot Sungai Penuh untuk tanggapi persoalan ini,” ujar Fadli.

Dia mengaku akan terus membantu mereka yang merasa dicurangi atas hasil PPPK tersebut. “Sebagai wakil rakyat, saya akan terus bersama mereka-mereka yang merasa diduga dicurangi soal hasil PPPK ini. Jika itu ternyata benar, artinya Dzalim ini tentu harus diusut tuntas soal hasil PPPK baik di Kerinci ataupun Sungai Penuh,” lanjut Fadli.

Berita sebelumnya, curhatan seorang guru honorer di Kota Sungai Penuh Jambi viral di media sosial usai tak lulus dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2023. Guru honorer bernama Epi Sartika itu kemudian curhat sambil menangis tersedu soal apa yang dialaminya kini.

Berdasarkan video viral yang dilihat detikSumbagsel, Epi mengaku sudah 13 tahun jadi guru honorer. Dia bahkan mengaku mendapatkan nilai bagus saat tes tetapi disebut malah tak lulus.

“Sudah 13 tahun tidak diperhitungkan, nilai tinggi tidak diperhitungkan, padahal berangkat tes ke Jambi separuh mati demi ikut tes,” ucap Epi dilihat dari video viral nya itu, Minggu (24/12/2023).


sumber https://apps.detik.com/detik/

Example 300250
Baca Juga:  Ratusan Rumah Warga Kerinci dan Sungai Penuh Terendam Banjir
Example 120x600