Deco juga membandingkan perjalanan karier Messi dengan wonderkid saat ini, Lamine Yamal. Menurutnya, keduanya memang jenius, tetapi tumbuh dalam konteks yang sangat berbeda.
“Mereka berada di fase dan memiliki karakter yang berbeda. Leo dan Lamine sama-sama melihat permainan jauh di atas pemain lain, tetapi Leo berkembang di lingkungan yang tenang, tanpa tekanan menjadi pusat perhatian karena saat itu belum waktunya,” jelas Deco.
“Saat Leo debut, dia masuk ke tim yang sudah matang dengan rata-rata usia 26-27 tahun. Dia beradaptasi secara bertahap. Sedangkan Lamine tumbuh di era yang berbeda, dengan sorotan dan ekspektasi yang jauh lebih besar sejak dini,” tambahnya.
Dengan pernyataan ini, Deco secara tidak langsung menutup pintu spekulasi kepulangan sang legenda hidup dalam waktu dekat, sekaligus menegaskan bahwa fokus Barcelona saat ini adalah membangun masa depan bersama generasi baru seperti Lamine Yamal. (*)







