“Ada dua cara melestarikan bahasa Minang. Pertama lembaga pendidikan, sekolah, melalui kurikulum muatan lokal dan juga lewat lomba berbahasa Minang. Ini akan memaksa anak-anak untuk belajar bahasa dan budaya Minang. Kedua, rumah tangga yang selalu menggunakan bahasa Minang sebagai bahasa ibu dalam berkomunikasi di rumahnya. Jangan di rumah tangga sudah berbahasa Indonesia, sehingga anak-anak akan merasa asing dengan kata-kata berbahasa Minang,” kata Fauzi.
Pembicara lain Zusneli Zubir dan Fauriza selain memuji buku tersebut juga mengkritisi beberapa bagian yang perlu ditambah seperti soal pakaian dan nama- nama obat- obatan yang sudah langka diketahui anak- anak sekarang.
Perantau Minang di Yogyakarta Dr. Iramady Irdja pada sesi tanya jawab menceritakan bagaimana menanamkan bahasa Minang kepada anak cucunya yang tinggal di rantau, dikelilingi masyarakat berbahasa Sunda. Selama 28 tahun di rantau, tapi anak dan cucunya tetap paham bahasa Minang. Bahkan isterinya yang tidak dibesarkan di Minang, tetap paham dan mampu berbahasa Minang.
“Saya selalu memutar lagu-lagi Minang dalam perjalanan di mobil bersama keluarga, menceritakan kisah dan legenda Minang kepada anak cucu. Sehingga mereka mengetahui kata-kata Minang. Pulang ke Sumatera Barat, saya perkenalkan berbagai hal di sepanjang perjalanan dengan bahasa Minang. Namun, anehnya banyak juga yang ditemui di Sumatera Barat tidak lagi paham kata-kata Minangnya,” kata Iramady pensiun Bank Indonesia yang juga penulis ini.
Iramady berkesimpulan, untuk melestarikan bahasa dan budaya Minang harus dilakukan pemerintah daerah secara sistematis melalui kebijakan di sekolah dan orang tua di rumah tangga mencanangkan pemakaian bahasa ibu, yakni bahasa Minang.
Pembicara Devina Heriyanti, menyebutkan, dalam buku yang ditulis Fredrik ada aksara Minangkabau. Namun aksara itu tidak banyak dikenal karena kemudian muncul aksara Arab Melayu. Aksara Arab Melayu setelah Islam masuk ke Minangkabau yang banyak digunakan orang Minang dulunya. Namun kini aksara itu nyaris juga sudah mulai hilang karena tidak pernah diajarkan lagi.
Zoom meeting yang dimoderatori Sekretaris DPD SatuPena Sumatera Barat Armaidi Tanjung berjalan lancar. Tokoh-tokoh yang hadir betul-betul berkualitas memberi pemikiran. Tampak juga hadir dari Australia, Yogyakarta, Jawa Barat dan pencinta budaya Minangkabau Sumatera Barat. (rilis)







