Example floating
Example floating
BUDAYA

Bertutur Berbahasa Minang Mulai Hilang dalam Keluarga Orang Minang

230
×

Bertutur Berbahasa Minang Mulai Hilang dalam Keluarga Orang Minang

Sebarkan artikel ini
SatuPena Sumatera Barat mengelar diskusi buku berjudul “Palajaran Muatan Lokal Kaminangkabauan” karya Fredrik Tirtosuryo Esoputro, S. Pd., M. Sn., Sutan Mantari, Kamis (20/11/2025) .

PADANG (realita.news)  – Bahasa dan budaya Minang haruslah diajarkan sejak dini kepada anak-anak dan remaja orang Minang. Jika tidak diajarkan, bahasa Minang bakal menunggu hilang dari penuturnya yang orang Minang sendiri.

Demikian terungkap pada diskusi buku berjudul “Palajaran Muatan Lokal Kaminangkabauan” karya Fredrik Tirtosuryo Esoputro, S. Pd., M. Sn., Sutan Mantari, Kamis (20/11/2025) melalui zoom meeting.

Diskusi yang dibuka Ketua DPD SatuPena Sumatera Barat Sastri Bakry menampilkan pembicara Ketua LKAAM Sumbar Dr. Fauzi Bahar, M.Si., Datuk Nan Putiah, Peneliti Madya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Dra. Zusneli Zubir,.M.Hum., Guru BAM dan Dosen BAM Fauriza, S.Pd. dan Guru BAM di Kota Pariaman Devina Heriyanti, S.Pd., GSD.

Sastri Bakry mengatakan, saat diberi buku Palajaran Muatan Lokal Kaminangkabauan oleh Fredrik, setelah dibaca ternyata menarik. Sehingga SatuPena Sumbar menyelenggarakan diskusi buku ini. Buku ditulis dalam bahasa Minang yang jarang ditemui sekarang. Kita berharap buku ini menjadi inspirasi untuk mendorong upaya-upaya melestarikan bahasa dan budaya Minangkabau.

“SatuPena Sumatera Barat rutin melakukan diskusi buku, peluncuran buku dan menerbitkan buku anggotanya untuk mendorong semangat menulis dan melestarikan nilai-nilai pemikiran dari anggotanya,” kata Sastri Bakry, penerima penghargaan 40 Tahun Berkarya Sastra dari Badan Bahasa Indonesia ini.

Fauzi Bahar menyampaikan apresiasi dengan diskusi buku bertemakan pelajaran muatan lokal Kaminangkabauan. “Kita menyadari betapa pentingnya pelajaran Kaminangkabauan ini bagi anak-anak dan remaja di Sumatera Barat dan di rantau bagi orang Minang.

Saat ini sudah banyak kata-kata Minang yang hilang dari kehidupan keseharian. Bagaimana 20 tahun ke depan, sudah pasti semakin banyak kata-kata bahasa Minang hilang yang tidak lagi dipahami generasi muda Minang,” kata Fauzi prihatin.

Baca Juga:  Shio ayam akan lebih popular di Tahun Naga Kayu 2024

Fauzi menilai, langkah Fredrik Tirtosuryo Esoputro menulis buku ini bagus untuk tetap melestarikan bahasa Minang.

Tinggalkan Balasan